Gejala Depresi pada Anak

  • Whatsapp

Sumbumedia.com – Depresi merupakan kondisi kesehatan yang kerap didengar belakangan ini. Secara psikologis depresi merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan kondisi muram, sedih, dan merasa tertekan. Depresi dapat terjadi pada siapa saja termasuk anak-anak.

Depresi pada anak merupakan kondisi yang sulit di diagnosis. Namun belakangan seorang ilmuwan mampu menganalisis perasaan tertekan yang dialami anak-anak melalui air liur. Penelitian tersebut dilakukan dengan mendeteksi kadar hormon stres bernama kartisol. Studi yang dipublikasikan oleh Proceeding of the National Academy of Science itu dapat membantu para ahli kesehatan untuk mendeteksi apakah seorang anak mengalami kecemasan biasa atau depresi.

Read More

Uji kartisol memang hanya dapat dilakukan di laboratorium. Meski demikian, Bunda dapat mengamati tanda tertentu yang mungkin diperlihatkan saat buah hati mengalami depresi. Apa saja? Simak ulasan berikut.

Yang petama adalah anak sering merajuk. Perilaku tersebut ditunjukkan karena ia merasa tidak berdaya dan putus asa. Hal tersbeut juga menjadi tanda umum depresi yang dialami anak-anak. Selain merajuk, anak yang mengalami depresi biasanya juga sering terlihat kesal atau marah. Dalam National Institute of Mental Health dikemukakan bahwa anak yang mengalami depresi akan kehilangan minat pada hal yang sebelumnya sangat mereka sukai.

National Institute of mental Health juga menemukan ‘sinyal’ kedua pada anak yang mengalami depresi. Mereka biasanya bermasalah dengan sekolah. Waspadalah jika buah hati Bunda menolak pergi ke sekolah dengan berpura-pura sakit. Anak-anak juga mengalami gangguan mood sehingga sulit berkonsentrasi pada pelajaran.

Ketiga, anak-anak dengan gangguan depresi sering merasa nyeri dan sakit tanpa mengetahui penyebabnya. Depresi kadang memang mengakibatkan pening atau mulas pada anak-anak. Tetapi rasa sakit tersebut tidak dapat diatasi dengan obat-obatan yang biasanya dikonsumsi. Kondisi ini jelas berbeda dengan pura-pura sakit saat menolak ke sekolah. Buah hati anda juga tidak terserang virus atau bakteri melainkan sakit karena faktor psikologis.

Keempat, anak menjadi lengket dengan orang tua. Saat mengalami depresi, bisa jadi si kecil memiliki ketergantungan yang berlebihan. Cara yang ditempuh adalah dengan selalu menempel pada orang tuanya. Dalam National Institute of Mental Health disebutkan bahwa anak-anak juga menunjukkan ketakutan irasional bahwa orang tersayang mereka akan meninggal.

Terakhir, anak yang mengalami depresi akan tampak tidak berenergi. Depresi mampu mengubah suasana hati anak sehingga terlalu banyak tidur atau bahkan mengalami insomnia. Gangguan tersebut juga berpengaruh pada nafsu makan berlebihan atau sebaliknya. Akibatnya energi anak tidak seperti biasanya. Jadi, waspadai jika buah hati Bunda ingin makan terus menerus atau tidak ingin makan sama sekali.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *