Douwes Dekker, Sosok ‘Asing’ yang Membela Indonesia

  • Whatsapp

Sumbumedia.com – Douwes Dekker, Sosok ‘Asing’ yang Membela Indonesia. Kalau kita mendengar kata pahlawan kemerdekaan Indonesia, mungkin sosok ini jarang terlintas dipikiran. Kulitnya putih dan berhidung mancung. Dari luar fisiknya memang lebih mirip dengan bangsa yang menjajah di kala itu. Namun, di balik paras asingnya, kecintaannya pada Bangsa Indonesia tak usah diragukan. Ia bukan hanya ikut serta melawan penjajahan, tapi menjadi motor penggerak sekaligus inspirasi untuk revolusi. Ia bernama Ernest Douwes Dekker.

Kita mengenal 2 Douwes Dekker dalam sejarah Indonesia. Ya, mereka memang punya hubungan darah. Ernest adalah cucu dari Eduard Dowes Dekker, penulis terkenal dengan karyanya Max Havelaar. Sama seperti sang kakek, darah aktivis mengalir di tubuh Ernest, ditambah sang ibu yang memang keturunan Indonesia.

Saat remaja pun Ernest kecil akrab dipanggil Nest. Ia bekerja di perkebunan kopi dan pabrik gula. Dari sanalah ia melihat sendiri kerja keras dan hidup sulit para rakyat pribumi. Nest remaja bahkan sampai berkelahi dengan atasan dan kehilangan pekerjaannya demi membela sesama pekerja. Ia benci penindasan. Sikap kritisnya makin membara saat dia menjadi seorang jurnalis, ia berpikir bahwa sebesar apapun kemurahan hati Pemerintah Belanda, Hindia Belanda (Indonesia) akan hancur bila tidak diberikan pemerintahan sendiri.

Pikirannya lalu dia tulis dalam rangkaian artikel tajam di surat kabar dan sebuah buku. Terinspirasi karya sang kakek, ia membongkar kekejaman Belanda terhadap pribumi. Kata-kata tajam di buku itu ibarat muntahan peluru yang menghujam Belanda Di mata mereka.

Douwes Dekker adalah ancaman yang berbahaya. Tapi Douwes Dekker makin menjadi, ia membuka pintu untuk para pemuda di sekolah dekat rumahnya agar sering berkumpul dan berdiskusi tentang pergerakan. Dari pertukaran ide tiap malam, para pemuda itu sepakat untuk membentuk organisasi pergerakan Boedi Oetomo namanya.

Tangkapan Layar

Douwes Dekker memang tidak bergabung di dalamnya, gerakan ini sedikit berbeda dari pemikirannya. Tapi dari perkumpulan ini, ia bertemu seorang pemuda cerdas yang memiliki pemikiran yang sama dengannya dokter Cipto Mangoenkoesoemo. Waktu berlalu, Douwes Dekker melihat gerakan-gerakan yang ada tidak cukup besar dan radikal untuk mendukung visi dan harapannya untuk tanah air.

Maka ia mendirikan Indische Partij, partai politik pertama di Nusantara. Meneriakkan kesetaraan ras, terang-terangan melawan kolonialisme dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bersama dokter Cipto sebagai wakil ketua, partai ini berkembang setiap harinya.

Selama 8 bulan, mereka mengelilingi Pulau Jawa dan berpidato di berbagai tempat. Lewat pidato menggugah jiwa dan semangat perjuangan yang ia tularkan, partai muda ini berhasil mengumpulkan sekitar 7.000 anggota dari semua golongan.

Babak baru perjuangan telah ia mulai dengan tangan-tangan terkepal di udara, dan pekik kemerdekaan kian lantang bersuara.

Douwes Dekker mungkin bukan Indonesia tulen, tapi ia mendedikasikan hidupnya untuk kemerdekaan Indonesia. Setengah tahun sebelum Indische Partij, ia mendirikan surat kabar De Express bersama dr. Cipto. Lewat koran itu juga, ia menyebarkan pemikiran-pemikiran tentang kesetaraan ras, dan tentu saja ide-ide awal untuk Indische Partij.

Namun siapa sangka, bahwa lewat koran yang ia bangun, ada sesosok pemuda yang berotak brilian yang kemudian menuliskan karya-karya yang mengubah nasib mereka dan juga Bangsa Indonesia… selamanya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *